.
Plasenta Ditarik Paksa Sampai Rahim Ikut Keluar, Ini 4 Alasan untuk Nggak Melahirkan di Dukun Beranak

Plasenta Ditarik Paksa Sampai Rahim Ikut Keluar, Ini 4 Alasan untuk Nggak Melahirkan di Dukun Beranak

Beberapa minggu belakangan, suatu thread Twitter yang membicarakan tentang kejadian nahas seorang ibu mencetuskan yang ditolong oleh paraji (dukun beranak), beredar di laman Facebook. Thread ini sebenarnya dicuitkan oleh seorang dokter spesialis Emergency Medicine (EM) pada Januari mula tahun lalu melewati akun Twitternya @GiaPratamaMD, yang entah mengapa muncul lagi ke permukaan.

Dalam thread-nya tersebut, dr. Gia mengisahkan tentang pengalamannya menolong mengoperasi seorang ibu yang diketahui lepas rahimnya usai menjalani proses persalinan dengan pertolongan paraji alias dukun beranak ketika masa coass di kabupaten Garut. Kisah sang ibu ini begitu nahas, kejadian yang dialaminya itu bukan sebab ketidaksengajaan, melainkan sebab paraji yang membantunya mencetuskan menarik paksa ari-ari untuk menerbitkan plasenta yang masih menempel di rahim usai bayinya lahir. Alhasil, tidak hanya plasenta yang sukses dicabut, namun rahimnya pun ikut terbit melalui organ vitalnya. Tentu saja, sang ibu merasakan pendarahan parah dampak kejadian ini. Beruntung dirinya langsung diculik ke lokasi tinggal sakit oleh keluarganya dan sukses diselamatkan. Bayinya pun sudah lahir dengan normal dan sehat.

Kejadian mencekam seperti ini bukan yang kesatu kalinya. Berdasarkan keterangan dari laporan yang dikutip dari Merdeka.com, sebelumnya pernah terdaftar bahwa angka kematian ibu di Sumatera Selatan bertambah dari tahun ke tahun lantaran pemakaian jasa dukun beranak yang masih kerap dipakai warga untuk menolong persalinan. Mitos kepercayaan, biaya, sampai keterbatasan kemudahan tenaga berpengalaman di sejumlah daerah menjadi salah satu hal kenapa masyarakat sampai kini masih memakai jasa dukun beranak. Padahal, risikonya tinggi mulai dari keliru penanganan sampai kematian.

Semoga beberapa dalil di bawah ini menyadarkan semua ibu hamil dan keluarganya guna mempertimbangkan supaya lebih memilih memakai bantuan berpengalaman medis ketimbang dukun beranak ketika bersalin.

1. Persalinan tergolong ke dalam perbuatan serius dan berisiko tinggi yang prosesnya mesti ditangani, dipantau atau ditolong oleh tenaga ahli

Persalinan bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sepele. Ketika seorang ibu hamil ditetapkan sudah waktunya bersalin atau melahirkan, maka usahakan segera panggil atau membawa diri ke tenaga yang telah ahlinya menolong proses persalinan. Dalam persalinan, terdapat dua nyawa insan yang dipertaruhkan, yaitu sang ibu dan bayi yang dikandungnya. Kurang arif kiranya bila memandang persalinan sebagai sebuah tindakan yang remeh, dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, atau juga dengan siapa saja. Jika juga ada kejadian miris di mana seorang ibu mencetuskan bayinya di kamar mandi, atau di lokasi mana juga yang tidak cukup layak dan bayinya sukses dilahirkan dengan selamat, tersebut ajaib, melulu 1 banding 1000 orang yang mampu melakukannya.

2. Kebanyakan dukun beranak nggak mempunyai pendidikan yang sah berhubungan kesehatan, terutama mengenai persalinan

Praktik-praktik dukun beranak sering Tempatbet55 kali merugikan pasien sebab pada lazimnya mereka belum terlatih dan melulu mengandalkan ilmu tradisional yang diwariskan turun-menurun dalam membantu persalinan. Terbatasnya pengetahuan medis dukun beranak, baik terlatih maupun nggak, menjadi di antara penyebab kekeliruan penanganan yang dilaksanakan terhadap ibu melahirkan. Tak melulu kejadian rahim lepas sebab plasenta yang ditarik paksa, tapi pun ada sejumlah kondisi laksana memasukkan tangan ke jalan bermunculan tanpa sarung tangan, mencukur tali pusar dengan sembilu (yang nggak terjamin kesterilannya), dan masih tidak sedikit lagi kesalahan lain yang nggak jarang menyebabkan nyawa pasien melayang.

3. Pada sejumlah risiko kehamilan tertentu, sang ibu membutuhkan penanganan eksklusif yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis

Jika ada risiko kehamilan laksana halnya ketuban pecah dini, preeklamsia, atau kehamilan pada bekas bedah caesar, maka sang ibu mesti banget ditangani secara eksklusif oleh tenaga medis, baik dokter kandungan maupun bidan yang berkompeten. Hal ini dimaksudkan supaya proses persalinan dilaksanakan lebih seksama dengan memerhatikan hal risiko yang dirasakan sang ibu. Meski begitu, bukankah nggak terdapat satu pun teknik yang dapat meramalkan bahwa persalinan berlangsung normal atau nggak? Maka urgen sekali guna memilih tenaga medis yang berkompeten guna menangani persalinan inilah masalah-masalahnya, ketimbang dukun beranak yang beraksi menurut estimasi dan dasar empiris saja.

4. Ada aturan supaya seluruh persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan dan diupayakan untuk dilaksanakan di kemudahan kesehatan

Demi menurunkan angka kematian dampak persalinan dengan dukun beranak, mayoritas Dinas Kesehatan, tergolong di Kota Depok mengeluarkan kepandaian yang mengandung pelarangan dukun beranak guna menangani persalinan, seperti dikutip dari Kompas. Pelarangan ini bukan berarti menyingkirkan peran paraji di masyarakat. Mereka tetap dibina guna bermitra dengan bidan saat menangani pasien. Tugas dukun beranak diberi batas hanya menemani pasien sebelum dan setelah melahirkan. Saat terdapat yang butuh pertolongan persalinan, masing-masing paraji diminta merujuk ke bidan. Kebayang kan, alangkah berisikonya memakai jasa paraji guna persalinan sehingga dibuatkan kepandaian khusus oleh dinas?

Beberapa cerita pilu berhubungan praktik persalinan memakai jasa dukun beranak ini bukannya memojokkan profesi dukun beranak atau paraji yang sampai saat ini masih dirasakan penting oleh kalangan masyarakat tertentu. Kisah-kisah ini perlu anda jadikan sebagai pelajaran supaya kelak kita dapat mempertimbangkan rencana persalinan dengan baik dan benar. Demi kelancaran proses persalinan dan yang terpenting mengamankan nyawa bayi serta ibu yang berisinya. Semoga dapat mengganti pola pikirmu, ya!

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *